Kedudukan ilmu sebagai Trilogi keilmuan dalam islam.
Perintah iqra dalam Q.S Al-Alaq ayat 1-5 menjadi
pedoman nyata bagi seluruh umat Islam untuk senantiasa menggali ilmu. Proses
penggalian ilmu sendiri tidak lepas dari pertolongan Allah Swt, karena
sesungguhnya ilmu adalah milik Allah dan manusia diberi instrument untuk
mendapatkan ilmu tersebut melalui pendengaran, penglihatan dan hati. Bagaimana
fungsi-fungsi tersebut dapat membantu seseorang untuk dapat meningkatkan
keimanan serta ketaqwaannya kepada Allah s.w.t. Bahwa, Iman adalah diyakini
dalam hati, segala perkataan yang diucap oleh lisan, dan diamalkan dengan
anggota badan.
Ilmu itu singkatan ain, lam, mim. Ain,
Iliyyin, derajatnya sangat tinggi. Lam, Lathif, Pemurah, Pemberi, mengerti
tentang hubungan antara sesame manusia. Mim, mulkun. Dengan ilmunya seseorang dapat
melesat ketempat yang sangat tinggi. Bisa bersifat ‘lebih’ dibanding orang yang
tidak memiliki ilmu, sebab ia tahu semuanya hanyalah milik Allah.
Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11,
Allah Berfirman : َูุงْูุณَุญُูุงَูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุฅِุฐَุง َِููู َُููู
ْ ุชََูุณَّุญُูุง ِูู ุงْูู
َุฌَุงِูุณِ ู
ُِْููู
ْ ุงَُّููู ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง َูุฑَْูุนِ ุงْูุดُุฒُูุง َูุงْูุดُุฒُูุงَْููุณَุญِ ุงَُّููู َُููู
ْ َูุฅِุฐَุง َِููู (ูกูก) ุฎَุจِูุฑٌ َูุงَُّููู ุจِู
َุง ุชَุนْู
ََُููู َูุงَّูุฐَِูู ุฃُูุชُูุง ุงْูุนِْูู
َ ุฏَุฑَุฌَุงุชٍ Yaa
ayyuhallazina amanu iza qila lakum tafassahu fil-majalisi fafsahu yafsahillahu
lakum, wa iza qilansyuzu fansyuzu yarfa illahullazina amanu mingkum wallazina
utul-ilma darajat, wallahu bima ta maluna khabir. Artinya : “Hai orang-orang
yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’,
maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila
dikatakan, ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah’, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat.
Bahwasannya pada ayat tersebut pula, menandakan bahwa,
seruan tersebut, Allah menjamin bagi siapa saja yang menuntut ilmu adalah
orang-orang yang beriman. Akan diangkat derajatnya.
Menurut Syah Waliyullah, ilmu dapat dibagi kedalam tiga
kelompok yaitu
1). Al manqulat adalah semua Ilmu-ilmu Agama
yang disimpulkan dari atau mengacu kepada tafsir, ushul al tafsir, hadis dan al
hadis.
2). Al ma’qulat adalah semua ilmu dimana akal pikiran memegang peranan
penting.
3). Al maksyufat adalah ilmu yang diterima
langsung dari sumber Ilahi tanpa keterlibatan indra, maupun pikiran spekulatif
Ilmu-ilmu yang dipelajari adalah
Pertama, ilmu yang menjadikan sahnya ibadah kepada Allah adalah ilmu fiqih yang
membahas tentang bagaimana semestinya seorang Muslim beribadah kepada Allah.
Kedua, ilmu yang menjadikan aqidah atau
kepercayaan seseorang menjadi benar sesuai dengan aqidah yang dianut oleh para
ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Juga mempelajari sifat-sifat wajib Allah
yang 20. Ketiga, ilmu yang menjadikan hati
bersih. Prilaku dzhahir seseorang itu
mengikuti prilaku batinnya. Orang yang beriman , amal perbuatannya itu
mencerminkan iman dan ilmu yang ia miliki.
ุฃََูุง ุฅَِّู ุงูุฏَُّْููุง ู
َْูุนَُْููุฉٌ ู
َْูุนٌُْูู ู
َุง َِْููููุง ุฅَِّูุง ุฐِْูุฑُ ุงِููู َูู
َุง َูุงَูุงُู َูุนَุงِููู
ٌ ุฃَْู ู
ُูุชَูุนَِّููู
ٌ.
Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan
dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allรขh dan ketaatan
kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.
Ilmu bernilai ibadah dan akan terus mengalir bernilai
pahala apabila kita mengajarkannya kepada orang lain. Rasul pun mengingatkan
“sampaikan lah, meskipun satu ayat)
Amal yang disertai dengan ilmu, didasarkan pada akal,
tidak hanya dengan nafsu. Maka dari itu, orang berilmu tidak akan tersulut
emosi dan berpikir sebelum bertindak. Bila ada permasalahan diselesaikan dengan
yang baik. Akal ditempatkan diatas karena memiliki kemuliaan yang tinggi sebab
ilmu yang diperolehnya. Ilmu akan menambah keimanan kita, semakin dalam ilmu
yang kita gali maka akan semakin bertambah pula keimanan kita
Mengerjakan sesuatu amal ibadah tanpa ilmu, Mardud, ditolak. MAka dari
itu, Ilmu itu menghantarkan ibadah-ibadah kita diterima. Bukan sekadar sah akan
tetapi juga makbul.
Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Dan Kami tampakkan apa yang dahulu telah mereka amalkan
lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Segala ilmu yang telah kita peroleh
hanyalah sedikit dari Tuhan yang Maha Mengetahui itu titipkan pada kita. Iman
membutuhkan ilmu agar lebih terarah dan bernilai tinggi. Ilmu yang bermanfaat
adalah ilmu yang diamalkan sehingga bernilai manfaatnya. Seimbangkan urusan
dunia dan akhirat dari tiga rangkaian inilah tak dapat dipisahkan. Sebagaimana
telah diriwayatkan oleh H.R. Bukhari yang berbunyi:
"Man aroda dunya fa’alaihi bil‘ilmi,Man arodal akhiroh fa’alaihi bil‘ilmi,
Wa man aroda humaa fa’alaihi bil‘ilmi
Artinya: Barang siapa ingin
memperoleh kebahagiaan hidup di dunia harus dengan ilmu dan barang siapa ingin
memperoleh kebahagiaan akhirat harus dengan ilmu dan barang siapa ingin
memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat harus dengan ilmu.
Referensi:
https://muslim.or.id/11641-bagaikan-debu-yang-beterbangan.html
https://www.youtube.com/watch?v=lLkRWW0LNE4
http://attaufiqdepok.blogspot.com/2015/05/syukur-tasyakur.html
Referensi: https://almanhaj.or.id/12638-jadikanlah-akhirat-sebagai-niatmu-2.html
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/06/26/nqjip0-pentingnya-ilmu
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/96374/tiga-ilmu-yang-wajib-dipelajari-setiap-muslim
https://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/
maret/ape=ril 2020
Komentar
Posting Komentar