Memilih untuk tenang
Baru aja ku memperbaiki posisi kipas gantung. Kipas tempel yang tidak lagi ada tempelannya dan menjadi kipas yang digantung dengan tali. Posisinya tentu saja tidak se-'ajeg' menggunakan penyangga lainnya. Lihat? Hanya menggunakan tali. Goyang kanan kiri kalau posisi nggak stabil atau kena sentuh sedikit, pasti akan mengurangi kecepatan si anginnya atau bahkan mati. Kipas yang setengahnya masih bisa berfungsi ini, kepalanya juga tidak ada tombol sendinya lagi. Tepat satu arah saja. Kita yang menetap satu sisinya aja, tepat di kasur, bukan kipas yang muter.
Belum habis kesalku ini, langsung.. segera ku menulis ketika terbesit pemikiran. Sudah lama juga tidak menstabilkan emosi dengan menulis.
Gini. Bayangkan posisi kasur persegi panjang menghadap depan, tepat 1 meter samping kasurnya adalah pintu. Berhadapan 1 meter seukuran kasur adalah tepat kipas itu dapat menyala. Dikanan atas, tergantung juga stopkontak dimana setiap kali barang elektronikku di-charge akan disimpan tepat dibawah kaki ku ketika selonjoran di kasur. Bayangkan tidur nyaman tanpa mimpi,mungkin akan baik-baik saja. Tapi seringnya? Mau mimpi atau tidak saat tidur & saat sekolah online, ada aja insiden nyenggol si kipas ampe grabak grebuk bikin oleng. Kesel. Pake banget. Sedang gerah-gerahnya, ia yang paling dibutuhkan ketika ku berada di ruangan yang cukup sempit ini.
Nah, baru saja itu terjadi. Tapi tadi, kepalanya cuman 'nyengkleh' dikit kemudian dibenerin aja malah bikin ganjelan bawah-belakang dengan selimut&bantal tumpuk itu malah jadi rwoboh juga. Kondisi sudah sangaat mengantuk dan sudah siap tidur. Tenang~
Lalu tiba-tiba, harus siap membantu kipasnya 'ajeg' lagi.
Setelah kembali duduk tenang dan mencoba menulis, ternyata permasalahan sekecil itu bisa menjadi besar ketika kita selalu 'tidak siap' akan hal yang terjadi secara tiba-tiba ataupun menganggap tidak pentingnya mengurus hal-hal kecil tersebut alih-alih malah mengabaikannya. Dibuat kesal karena kita permasalahan kecil yang kita tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga seolah-oleh ini permasalahan yg konpleks.
Justru, menyelesaikan permasalahan kecil adalah refleksi penjabaran atas 'cara' kita memperbaiki masalah-masalah yang besar. Entah itu antisipatif / memang sudah dihadapkan oleh permasalahannya.
Berkali-kali ku berusaha menenangkan diri dengan beristigfar. Tapi, wajarnya manusia (hanya si manusia satu ini ahaha) ketika diganggu salah satu makhluk ciptaanNya yang kecil seperti nyamuk pun, emosinya bikin istigfar.
"Berusahalah sadar" dengan segala kejadian yang terjadi, apalagi yang datang sebagai ujian untukmu. Kadang, karena ketidaksadaran itu yang membuat kita tidak dapat mengatur/menstabilkan emosi kita sehingga mudah saja jika menyimpulkan 'respon'nya terlalu cepat. Buatlah respon-respon tersebut dengan cara yang lebih baik. Setidaknya, yang tadinya misuh misuh UH AH IH IH terus, cobalah untuk beristigfar. Cobalah mengumpat dengan do'a. Lucu sih, tapi keselnya berubah jadi do'a dan bisa saja terkabul. Kalau aku? Karena kipas aja, aku tadi bilang "Atuh ya Allah, titadi, aku teh pengen adem tidurnya. Nanti mah pake AC aja ya Allah." terus kepikiran kenapa ya tadi aku malah bilang gitu? Nah setelah itu berusaha 'menyadarkan' emosi diri dan mengontrolnya. Mungkin, itu adalah responku ketika sudah sering terjadi hal ini terjadi, si kipas misalah, tapi anger weh tetap grabak grubuk. "Iya ya Allah, biar ngga mamarahan wae," ku lanjut lagi do'anya & memilih untuk diam. Seperti biasa rumus hidup : Tetap misah misuh tapi tetep dikerjain.
Sampai di titik kemudian "DAH. COBA TENANG"
Susun itu tumpukan selimut& bantal ganjelan lebih rapi (ngga asal ganjel). AND IT WORKS! langsung ajeg.
Trus diriku bilang apa? "Tu kan... coba dari tadi, biasa aja nanggepinnya, nggak sesulit itu kan?"
Ternyata memilih untuk (lebih) tenang itu membantu mempermudah permasalahan. Entah masalah kecil maupun yang besar.
Sadar & mengerti emosi yang kita punya juga penting untuk tetap menjaga& mengatur setiap respon / keputusan yang diambil selanjutnya.
Masalah kipas aja hebohnya luar biasa. Kesel kan? Udah pastilah. Jelas mau tidur, bisa-bisanya tidak bisa kompromi. Tapi itu hal diluar kendali kita, meskipun aku bisa aja memilih sebelumnya (membenarkan posisinya) atau (membiarkannya seterusnya menjadi kipas sengklek). Mau permasalahan kecil ataupun besar, kamu harus tetap tenang untuk menyelesaikannya. Masalah kipas aja begitu, gimana kalau 'beneran permasalahan (hidup)'?
Tata hatinya & hati-hati selalu, ya?
Komentar
Posting Komentar