high five
janji temu itu memang seru. kita mengumpulkan serpihan-serpihan rindu yang tersebar dari beberapa kota. kita berkumpul dan membiarkannya dibagi menjadi serangkaian cerita. tak pernah habis kita bertukar cerita. kita bergantian dalam berbagi emosi dan wejangan, seraya meng-aamiin-kan hal-hal baik sedang juga bermisah-misuh ria dengan hal-hal pelik. ada banyak cerita disetiap kota. ada berbagai macam manusia didalamnya. lain cerita, misal-misal, kita bertukar peran atau tempat. mungkin ada yang lebih betah, mungkin ada yang justru lebih parah. kita bersyukur dapat bertahan dengan keadaan, lalu saling mendengar berbagai kisah suka-cita & keluh-kesah.
kesekian kali bertemu, kita berbeda cara dalam menyapa. kesekian kali bertemu, kita berubah lebih ramah. beberapa yang lain, memang ada yang sama denganku, gengsi; apalagi memulai pembicaraan, yang memang sebelumnya pernah kita bicarakan dichat saja. tersenyum, menyapa, juga bertanya kabar sesekali terasa lebih formal. bagaimana bersalaman ala orang dewasa yang sekiranya bisa terkesan asik namun menghangatkan?
aku teringat saat kali pertama, cipika-cipiki dengan bibi saat lebaran. rasanya lebih dihargai dan dianggap teman, karena aku yang sudah mulai menginjak dewasa. hal lain juga, saat kali pertama dipeluk oleh seseorang yang setelah 2 tahun lebih kami mencoba bersama, namun ternyata di hari itu pula kami berpisah dan mengakhirinya. aku memang terbiasa jika beberapa teman ada yang senang hanya menyapa secara lisan atau mungkin bersalaman dengan high five tanpa telapak tangan yang saling bertemu. kalau aku penuh energi, aku juga tidak segan untuk menyingkirkan sedikit gengsi ku. sama seperti beberapa kawan lain, ku mencoba menjadi pribadi yang lebih menghangatkan, saat bertemu kembali, justru lengan itu terbuka sangat lebar untuk kemudian kami saling mendekap. pelukan itu sangatlah menghangatkan, juga menenangkan. tapi sayang, tak semua manusia punya energi yang sama. kadang akupun begitu. maka dari itu aku membiarkan mereka melangkah pertama dan membuka obrolannya. lebih senang namun jarang, ada seseorang yang kalau menyapa setengah-setengah. seakan terlihat ragu, ingin memeluk alih-alih hanya mengusap punggung, menepuk-nepuk pundak, atau mengelus kepala. masing-masing orang punya cara "high five"-nya tersendiri.
tapi kalau-kalau.. kamu mau membagi energi yang sama, mengapa tak coba mengawalinya dengan caramu ber-"high five" saja?
p.s: tulisan ini dibuat karena beberapa hari lalu berkunjung ke rumah teman SMA yg ditinggal oleh Papanya. alih-alih ingin menenangkan dan mengkhawatirkannya, justru aku yg ditenangkan dengan caranya menyambutku. Kami berpelukan tanpa rasa canggung, padahal cukup lama kami tidak bertemu. Di SMA pun, hanya 1 tahun pertama bersama, selebihnya? ya masing-masing~ baru kali ini aku merasa diterima kembali. :)
Komentar
Posting Komentar