Perkenalan dan Alasan Mengapa Kuliah dengan Pilihan Universitas, Fakultas, dan Jurusan ini.
[ Hello! ]
I’m Dyvia Mutiara Wulandari, one of God's creatures who lived in the red and white archipelagic country. As all my friends have known and calling me, Dyvia or Tiara.
I live inside the rain roomy because here these the nicest popular name of my living city. So that what i thought about my bedroom scenery, too. Buzz lightyear help me expect realization all the imaginary. 1975, Coldplay and John mayer hanging me out all day with the rhythm and rhyme. Also, I just write down like what Anne Lamott, the author of Bird by bird's book, said about a “crappy first draft”, and I did more posted on my hiding Tumblr, sometimes.
By the way, InsyaAllah, I'll turn to 20 in this year for 6 months to go. So, this going the second year of my studying at one of the Islamic universities, the 4th semester. I choose UIN Jakarta for somereason. And also,for what i hope.
Menjadi lulusan Madrasah Aliyah adalah menjadi harapan untuk orangtua dan keluarga untuk tetap menempuh pendidikan ke jenjang lanjutan yang kurang lebih memiliki latarbelakang yang sama, agama. Di keluarga saya, meskipun bukan yang terlalu agamis, tetapi pendidikan beriringan dengan agama menjadi penting. Sudah terpatri dan dididik dalam keluarga yang memiliki pandangan seperti itu, akhirnya bagaimanapun mesti selaras, dunia dan akhirat dapat sejalan. Ya,meskipun tidak menjamin baik-buruknya seseorang tergantung dari almamater yang dipunya, tapi setidaknya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan saya adalah yang percaya bahwa pandangan dan cara berpikir seseorang, termasuk dari lingkup / sektor pendidikan, terbentuk dimana dia berada, bagaimana lingkungan membentuk dirinya. Ya, tapi balik lagi, bagaimana diri / setiap manusia itu menempatkan dirinya masing-masing dan beradaptasi dengan lingkungannya. Mampu atau tidaknya tergantung dirinya sendiri. Dan apa yang diharapkan keluarga pun begitu. Karena melihat pengalaman sebelumnya, bagaimana perubahan diri saya saat perpindahan dari SMP Negeri ke MA Negeri. Akhirnya karena hal tersebutlah menjadikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu kandidatnya.
Mengapa salah satu? Karena salah dua-nya lagi adalah UGM dan IPB. Ketiganya perlu pertimbangan termasuk segi jarak dan efektifitas, dan UGM gagal dari segi itu. Kalau IPB, dia menang, hanya perlu 10 menit dari rumah untuk sampai ke GWW. Itupun IPB S1, tapi saya gagal tidak memenuhi persyaratan. S1 IPB hanya diperuntukkan untuk jalur MIPA sedangkan jurusan saya saat MAN adalah IPS. Mungkin,bisa saja saya mengupayakannya lagi untuk bisa masuk IPB. Namun saya dihadapkan berbagai pilihan lainnya sedangkan waktu pendaftaran terbatas. Pilihannya adalah jika saya mengikuti jalur test UTBK maka risiko mengulang semua materi IPA dari awal sehingga mau tidak mau mewajibkan saya untuk belajar dari 0,menyesuaikan dengan teman-teman IPA lainnya atau pilihan lainnya adalah saya tetap mengikuti UTBK dengan jalur IPS tapi masuk Vokasi D3 IPB, yang jarak rumah ke kampus perlu 45 menit untuk sampai menggunakan angkutan umum. Sedangkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah tempat yang pas diantara UGM dan IPB jika disanding dengan tolak ukur jarak, tidak jauh dari kota saya tinggal. Selain itu, ada saudara yang rumahnya dekat dengan UIN Ciputat. Dalam keluarga dari eyang sendiripun, Bibi dan Mamang adalah lulusan di almamater yang sama meskipun di fakultas yang berbeda. Maka jadilah, hal hal tersebut memperkuat andil dalam keputusan saya dalam menentukan pilihan.
Saya terlalu menikmati proses sampai lupa akan berpindah ketahap selanjutnya yang lebih tinggi. Saya merasa kegiatan ujian dan kawan kawannya menjadi sangat begitu terasa sehingga saya berpikir "Bagaimana jika saya mengupayakan satu jalan dulu dengan usaha yang maksimal?" Kala itu saya berpikir, semakin banyak pilihan semakin sulit juga untuk saya memilih,maka saya putuskan melakukannya satu persatu. Alhamdulillah, saya adalah salah satu orang yang diberikan kesempatan mendapat jalur SNMPTN. Saya didaftarkan dan mendapat rekomendasi dari Guru-guru untuk mengambil UIN Jakarta atau UNJ.
Keputusan ditentukannya jurusan adalah saat detik itu juga, ketika saat nomor siswa ganjil dan genap menjadi hal yang heboh para siswa berlomba-lomba masuk ke server / web pendaftaran. Sambil menunggu waktu yang pas, mendapat giliran untuk bisa muncul dan mendaftar, saya dan keluarga( ibu terutama) mempertimbangkan hal ini.
Awalnya saya tidak tahu tujuan saya masuk UIN Jakarta apa. Yang saya tahu, tujuan saya kuliah adalah untuk mengangkat derajat keluarga, membentuk pola pikir, mempunyai pemikiran kritis dan menuntut ilmu. Tidak ada spesifikasi do'a dan kemampuan saya saat itu. Terbesitlah mengapa kemudian saya mengambil Sastra Inggris adalah ketika saya merenung wejangan para orangtua. Perkataan yang saya ingat salah satunya dari Almh.uyut, intinya bahasa itu penting. Semua orang berkomunikasi memerlukan bahasa. Bahasa juga memperluas lingkup relasi. Iya, kala itu Almh.uyut bercerita tentang masa lalunya dan bagaimana Alm. Uyut, suaminya, memiliki teman yang banyak karena uyut mahir Bahasa Jepang dan Belanda sedang saat itu banyak orang masih kental dengan bahasa daerah. Kenapa nggak komunikasi? Menurut saya, sebagai dasarnya, manusia itu bisa berkomunikasi dan memiliki kemampuan begitu. Tetapi, komunikasi menjadi lebih bermakna jika diiringi dengan manners yang baik salah satunya Tata Bahasa. Dan sangat bersyukur ketika saya mengetahui ternyata dunia Sastra ada di Fakultas Adab dan Humaniora. (Meskipun saya awalnya mengira namanya akan seperti universitas lainnya, Fakultas Ilmu Budaya.) Yang saya harapkan juga semoga begitu,seperti bagaimana nama fakultas ini berpengaruh terhadap para mahasiswanya.
Lalu, Mengapa harus sastra dan inggris?
Dari dulu, saya sangat senang menulis. Menulis apa saja yang suka dan apa yang ingin saya tulis. Tapi dulu, jarang sekali untuk menulis rapi sebagaimana untuk keperluan pembelajaran. Sesekali menulis cerita dan puisi, tapi menggunakan Bahasa Indonesia. Kalau alasan mengapa Inggris, karena merupakan lingu a franca. Awalnya begitu. Tetapi saya berpikir sekarang, mengapa saya berada didalamnya dimana semua orang kini mempelajarinya? Justru karena bahasa ini global, saya jadi merasa nilai keunikannya menjadi hilang karena semakin banyak yang menggunakan. Tapi meski begitu,lagi lagi, karena niat awal saya ingin mengangkat derajat orangtua, ya siapa tahu mungkin saya akan menginjakkan kaki di Inggris atau keliling dunia karena pilihan yang saya ambil sekarang ini. Who knows?
Setelah masuk di jurusan ini, Alhamdulillah saya belajar apa yang saya senangi sedari dulu, menulis. Alhamdulillah-nya lagi, Dosen Mata Kuliah mengizinkan kami menjelajahi dunia kepenulisan terlebih dahulu sebelum lebih jauh lagi spesifik pada jurusan kami. Karena menurut saya menulis itu termasuk seni berekspresi, saya semakin senang ketika diberi ruang itu. Semoga seperti apa yang beliau katakan, semoga terpacu untuk membuat karya tulis berupa buku. Lebih penting memaknai tulisan secara esensi maka semoga dari adanya mata kuliah essay writing ini menjadi konstruktif bagi kami semua dalam belajar, menjadi terpacu lagi untuk mengembangkan diri dan berekspresi,juga lebih percaya diri atas apa yang telah kita tulis. Semoga dengan ilmu ini mempermudah kami menyusun setiap laporan, makalah, skripsi, dan tulisan lainnya.
Saya berharap nantinya saya bisa mengabdi kepada masyarakat dan bermanfaat terhadap sesama. Mungkin, nanti saya akan menuliskan pemikiran-pemikiran juga tulisan khayalan saya kedalam buku kemudian bisa menjadi inspirasi atau bahkan sebagai rujukan keilmuan. Saya akan mendirikan yayasan dimana nantinya yayasan bernuansa hijau (go-green) tersebut akan mengajarkan pendidikan agama dan mengaji. Namun seiring pembelajaran, komunikasinya menggunakan 3 bahasa: inggris, indonesia, dan daerah. Yayasan dimana bisa memunculkan dan menumbuhkan kreatifitas pada anak-anak beriring meningkatnya keilmuan mereka tentang agama, sehingga tidak hanya cinta dengan karya seni (kreasi sendiri) tetapi juga cinta terhadap agamanya. Tapi yang saya harapkan dengan sangat, segala mimpi saya nantinya menjadi nyata. Tidak hanya ekspektasi saja,tapi segala mimpi dapat terwujud secara realita karena do'a & usaha.
Komentar
Posting Komentar