Tentang Hujan
Hujan itu seperti membawa saya ke dimensi yang lain. Menikmati hujan adalah seperti kembalinya roh-roh ketenangan. Mungkin terdengar klasik dan klise; hujan, senja, atau hal lainnya terlihat puitis. Tapi sungguh, ini adalah sebuah kejujuran. Saya juga tidak begitu paham sebenarnya bagaimana hujan, aku, kamu, cinta,dan senja bisa saling berkaitan begitu saja dalam meromantisasi sebuah peristiwa,ya mungkin karena pembawaannya sering dijadikan gombalan para remaja (?)
Saya senang membagikan cerita bagaimana ramahnya bumi menerima air dari langit dan menyimpannya. Saya lebih senang membagikannya lewat gambar, saya foto, lalu saya bagikan agar apa yang saya lihat dengan mata saya dan keteduhannya dapat dirasakan juga.
Saya senang menceritakan bagaimana proses terjadinya hujan. Saya senang jika ada yang dengan sukarela menceritakan pengalamannya mengenai hujan dan kawanannya. Kalau saya bercerita bahwa suka hujan-hujanan, pulang sekolah nyeker, keliling taman kota menjinjing sepatu dan tas sepulang mengarak sultan dari arab datang ke istana, atau pernah terobos hujan selama 1,5 jam perjalanan pulang dari kampus ke rumah menggunakan sepeda motor sebelum akhirnya tangan saya kebas yang untung saja keringnya tidak berkarat, dan cerita lainnya, mungkin orang lain tidak begitu tertarik mendengarkannya. Untuk apa? Tidak terlalu penting juga bagi mereka,kan? atau, Apakah mereka penyuka hujan juga? Ya, jadi, sukarela saja mengetahui apapun yang berbau hujan. Jika teman bincang saya anak kecil pasti akan lebih nyambung. Mereka senang diajak berfantasi dengan imajinasi saya. Mereka senang mendengarkan hal-hal baru dan juga seru, termasuk tentang hujan ini. Saya sering merekam obrolan mini dengan adik (sepupu) saya, terakhir yang ada rekamannya sih tentang hujan. Dan selalu saya putar ulang, tiap kali saya rindu berbincang ngalor-ngidul dengan seseorang, tiap kali saya rindu duduk di teras merasakan tampias hujan, atau tiap kali saya ingin merasa tenang ditengah 'mumet'nya hari-hari saya, tapi hujan belum juga turun.
Bagi saya, penjelasan tentang proses terjadinya hujan lebih mudah dijelaskan dibandingkan fenomena alam lainnya. Singkatnya, proses evaporasi dari laut(umumnya) / permukaan air ke awan atau dengan proses transpirasi dengan bantuan tumbuhan, dengan suhu & tekanan udara di atas terjadilah proses kondensasi. Lalu air yang telah tertampung penuh di awan terjadi proses koalesensi, kemudian dijatuhkan ke bumi lagi dalam proses bernama presipitasi alias yang kita kenal dengan nama hujan. Nanti, air yang diserap ke tanah disaring lagi dalam proses infiltrasi yang kemudian air-air yang bersih dapat kita gunakan dalam keseharian kita dan bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya.
Saya pernah mengajar disalah satu tempat pelosok untuk melakukan pengabdian. Awalnya, saya bingung bagaimana mengibaratkan proses hujan dengan sesuatu yang mudah untuk anak-anak disana ketahui dan pahami. Saya juga termasuk senang menjelaskan sesuatu dengan mendeskripsikannya dengan gambar. Saat masih berlangsung KBM, saya menggambarkannya di papan tulis. Ketika hari sedang hujan, kami belajar di luar kelas. Saya ajak mereka memperhatikan hujan kemudian saya sisipkan pembelajaran yang telah saya jelaskan sebelumnya. Saat di rumah tempat saya mengabdi, ketika anak-anak bermain kerumah & sedang hujan, saya menjelaskannya kembali. Entah bagaimana saya dengan mudah menceritakan hujan tiap kali melihat langit, ya, untung saja mereka tidak bosan dan masih punya rasa ingin tahu yang besar. Saya juga memperkenalkan bagaimana jika hujan turun di kota saya. Padahal ya memang air- air juga yang turun. Tapi mereka sungguh membayangkan kehidupan diluar kampung mereka.
Di tempat saya mengabdi juga, saya lebih senang menghabiskan waktu memperhatikan hujan di Rumah Amu, rumah panggung milik nenek dari pemilik rumah yang kami tinggali disana, dibandingkan tidur (siang) saat adem-ademnya. Tapi pernah, saya kepergok ketiduran di teras Rumah Amu dan dibangunkan Ibu agar segera pindah masuk ke dalam. Duh, nyaman sekali.
Ditempat saya mengabdi, kebun milik warganya subur sekali. Alhamdulillah-nya, sedang panen Kadu juga sesekali buah-buah lain seperti pisang dan manggis. Tapi, selain itu banyak juga sih. Ibu-Bapak sering panen kangkung, setiap hari dimasakin tumis kangkung, sambal dan jengkol. Begitulah bersyukurnya kami yang datang saat musim penghujan, ya.. meskipun air untuk mandi dan minum menjadi lebih keruh dari biasanya. Maklum, masih menggunakan air sungai, bukan air dari pipa yang mengalir sampai jauh, tapi nyatanya belum sampai ke rumah yang kami tinggali.
Bermain bersama dibawah hujan apalagi bersama anak-anak, sungguh sangatlah menyenangkan. Saat pengabdian, saya dan teman sepengabdian diajak naik ke Pasir Luhur, bukit tertinggi di desa yang bisa melihat 3 kampung. Kami hujan-hujanan saat sampai dipuncaknya, menyantap ikan bakar sambil menunggu hujan reda. Saat kami turun bukit, ketika tanah lempung menjadi lebih licin, kami jadikan itu perosotan. Saat saya dirumah saja selama pandemi, bermain hujan-hujanan, berdiri dibawah roof gutter, adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya dan adik. Lompat-lompat, nyanyi-nyanyi, sambil menyikat labtai teras juga rasanya tetap menyenangkan. Dan saya tahu, bahwa Hujan membuat bahagia semua orang. Dengan mudahnya air itu turun membuat manusia-manusia bumi menjadi lebih lega, tenang, dan senang. Menjadikan apa-apa yang ada dibumi, bermanfaat dan dapat dinikmati oleh semua makhluk hidup didalamnya.
Sebelum itu semua, saya adalah orang yang kurang peka terhadap lingkungan. Bukan hanya secara sosial, tapi juga alam. Saya jarang berpikir maksud-maksud alam yang telah banyak mengajarkan banyak hal kepada manusia,hanya saja saya adalah salah satu dari banyaknya manusia yang belum menyadarinya, kala itu. Saya hanya ingat,bagaimana saya bersama hujan dapat mengukir cerita-cerita baru dan memelodi suasana saja, tanpa tahu makna sesungguhnya apa. Saya tidak lebih dari terlampau baper dari apa yang remaja lain rasakan.
Saat masa remaja yang sedang labil-labilnya, ketika itu saya dipertemukan oleh Novel Teman Imaji yang bercerita tentang hujan 12 bulan. Novel yang kemudian mengubah cara pandang saya tentang apapun dalam kehidupan dan alam semesta, terutama hujan. Yang awalnya saya kira novel itu hanya dipilih&dibeli karena cover-nya yang unik dan lucu bagi saya di masa putih-abu, ternyata dapat membantu saya dalam bertumbuh.
Semua tentang hujan adalah menyenangkan & meneduhkan. "Hujan itu bagus kalau jatuh.
Kayak bintang kalau jatuh.Kayak daun kalau jatuh.
Kenapa kita harus takut jatuh?
Semua pasti pernah jatuh." - Teh Uti, Penulis Teman Imaji.
Komentar
Posting Komentar