Bertemu
Rara dan Adit adalah sahabat. Sejak SMP, mereka selalu bersama. Semua hal tentang apapun di dunia, bisa mereka bahas dengan berbagai cara dalam waktu yang lama. 5 tahun bersama Adit membuat Rara jadi paham tentang pemikiran dan sikap laki-laki. Hal itu pula yang membuat Rara bercerita dan meminta saran soal percintaan. Tapi, itu semua karena Adit yang minta. Rara mana mau dekat dengan laki-laki. Ya, selain Adit tentunya. Adit dimata Rara adalah Adit yang supel dan ramah bagi semua orang. Adit dimata Rara adalah Adit yang dewasa. Karena Adit lebih bisa menarik perhatian lawan jenis duluan, makanya Adit sudah punya pacar. Kalau Rara? Jelas belum.
"Ra, lo ga ada niatan cari cowo apa? Udah mau lulus SMA nih, gada kemajuan tuh dalam hidup lo," kata Adit menyindir sambil tertawa.
"Weh! Kemajuan bagi gue ga soal per-cin-ta-an doang kali, Ka. Belum aja.." jawab Rara sebal.
"Lo aja yang kepalang dewasa. Gue sih santai~ nanti juga banyak yang mau sama gue, liat aja," Lanjut Rara tertawa sambil menepuk pundak Adit.
Iya, Adit lebih tua usianya daripada Rara. Makannya, Rara memanggilnya Kakak, Ka Adit. Sebenarnya usia Adit memang usia normal dengan kawan yang lain, tapi Rara pernah akselerasi saat SD.
"Dih! PD banget lo," kata Adit. Rara tidak menghiraukan. Dibacanya notifikasi dari email. Tertulis, "Freelancer: Photography and Modeling." Rara membaca tulisan itu dengan seksama. Dilihatnya diujung kanan atas "until: 26 Mei 2005"
"Sekarang tanggal..?" Ucap Rara sedikit berbisik. Ia berbicara sendiri.
"Dua puluh tiga," jawab Adit heran.
"Gue mau ikut Projek ini ah," Rara menunjukkan email tersebut pada Adit.
"Yok silahkan. Gua dukung lo, kok, Ra. Asal.."
"Tumben banget lo, biasanya ngatain gua belagu,"
"Ya emang belagu," kata Adit. "Tapi gua tau lo mampu dan skill lo emang disana. Coba dulu aja."
"Tadi apa? Asal.. apa?" Tanya Rara soal pertanyaan sebelumnya.
"Lo nggak nyusahin gue." Kata Adit sambil menjulurkan lidah. Adit lari menuju motornya. Kemudian ia melambaikan tangan pada Rara dari kejauhan. Rara mengejar Adit ke Parkiran.
"Ga termasuk nganterin gue pulang,kan?" Teriak Rara sambil ngos-ngosan mengejar Adit. Adit mana tega kalau Rara pulang sendirian. Tiap pulang ekskul malam saja, laporannya selalu masih di Halte karena Busnya lama datang. Meskipun sekarang masih sore, sih,tapi Adit ngga mau berhadapan sama orang-orang di Terminal lagi seperti waktu itu bertemu Rara yang hampir pernah dijambret.
Di lingkarinya tanggal 26 pada Hari Minggu dikalendar dengan spidol merah. Hari yang Rara nanti-nanti. Bekerjasama dengan orang yang belum pernah bertemu,hanya mengenal lewat media sosial.
"Ra, gue nggak janji bakal jemput lo pulang ya. Gue lagi di Bandung, kalau pulang-pergi kayaknya kemaleman." Adit mengabari Rara lewat WA.
"Santai aja,ada ojek online ko. Lo ga mungkin seniat itu sih, pulang-pergi, Ka." Balas Rara.
"Lebih tepatnya gue capek sih ahaha tapi ShareLoc aja. Lancar ya Ra!" Kata Adit berakhir emoticon devil.
Rara menemui Baskara untuk bergabung di projectnya. Kali ini Rara yang menjadi modelnya sekaligus menjadi creative director.
"Baskara,ya?" Tanya Rara memastikan.
"Karanila? Ayok silahkan duduk," Baskara balas menyapa. Ditariknya kursi di depannya. Baskara justru jalan ke kursi sebrangnya. Rara hanya mengangkat alis sambil melihat Baskara. Baskara memberi senyum dan menunjuk ke arah kursinya.
"Terimakasih," kata Rara. Tersipu malu ia dibuatnya
Selama berbincang, memang menjadi rekan kerja yang professional. Tapi disamping itu, dalam lubuk hati Rara merasakan sesuatu yang beda. Ia berusaha tahan.
"Oke, ra. Mulai besok kamu boleh gabung di project kami. Gua seneng banget. Selamat," Kata Baskara mengakhiri obrolan. Tersisipkan senyuman dan tangan yang siap dijabat. Rara hanya senyum-senyum dan manggut-manggut saja. Hari pertama bertemu orang yang baru dikenal tapi bisa sebaik ini, membuatnya luluh. Hari pertama terlalu canggung.
Meskipun Baskara lebih tua daripada Rara ataupun Ka Adit, dia tidak mau dipanggil kakak. Beda dengan Ka Adit yang terlalu apa adanya,termasuk memperlakukan wanita. Malam semakin larut. Kalau Rara pulang sendiri, perjalanannya perlu 1 jam dengan transportasi publik.
"Halo, lo dimana?" Rara menelepon Ka Adit.
" Baru mau pulang. Sudah selesai?" Tanya Adit balik. "Sudah, gua tunggu. JANGAN LAMA-LAMA. Nyamuk pada kelaperan. Ngantuk gue," Kata Rara ketus.
"Tungguin aja gua jemput," Adit langsung mematikan teleponnya.
"BYE! Heuhh " Jawab Rara kesal. Menahan lapar dan sudah mulai ngantuk.
"Ra? Pulang bareng gua aja yuk. Kan searah," ajak Baskara menawarkan tumpangannya.
Baskara dengan gentlemannya, membukakan pintu dan mempersilahkan Rara masuk kedalam mobilnya. Rara tidak berpikir apapun. Dikepala Rara sekarang hanya, "yang penting gue sampai rumah."
Diperjalanan, Rara dan Baskara ngobrol asik. Mereka berdua mendengarkan playlist lagu favorit. Dan ternyata, selera mereka sama. Sheila on 7 memang menjadi lagu andalan bagi semua umat. Meskipun Rara tahu, Ka Adit termasuk kedalam umat itu. Entah mengapa lagu ini sambil mengobrol bersama Baskara menjadi lebih 'klop' ketimbang cekikan haha hihi bareng Ka Adit. Rara lebih sering hanya membalas obrolan Baskara ketimbang bertanya balik padanya. Dalam diri Rara sedang ada pertentangan. Tapi, yang paling dominan menyelimuti pemikirannya adalah "Apa Bisa?" Rara hanya belum siap membuka hati kalau-kalau nanti ada salah satu dari mereka suka.
Sementara itu, Ka Adit sudah sampai ditempat dimana Rara share location. Adit dengan jiwa sotoy-nya tanpa bertanya, masuk ke parkiran. Dilihatnya Rara sudah menunggu di depan Pos Satpam. Ia duduk dengan gaun putihnya. "Weh Ra tumben banget lo cakep," puji Adit sambil membunyikan klakson.
Rara tak banyak merespon. "Yaudah lo ngantuk ya? Yuk naik." Adit membukakan pintu untuknya.
Adit juga tak banyak berbicara hari ini. Adit bingung. Bagaimana mencari tahu siapa pria yang menjadi rekan kerjanya sekarang. Rara paling sulit kalau ditanya-tanya. Kalaupun jawab, pasti bercanda. Tapi, sudah 5 menit perjalanan mereka saling diam. Bagaimana mengawali perbincangan ini?
"Ra?" Tanya Adit sambil memperhatikan Rara sambil bersandar ke kaca jendela. Adit memperhatikan Rara, ia kebingungan gelagatnya. Ia tidak tahu bagaimana Rara menghabiskan waktu sehari ini. Apakah moodnya sedang tidak baik? Rara seperti manahan pipis. Ia mengempitkan kaki sambil menunjuk ke arah Rest Area terdekat.
"Oke, kita melipir dulu. Gua mau beli kopi. Terserah lo mau buang air dulu atau gimana," kata Adit. Tumben Adit bisa seperhatian itu,biasanya nyuruh tahan pipis sampai rumah. Ia akan menyetir lebih cepat dari biasanya,belaga seperti pembalap. Tak mau diajak bicara.
Rara keluar mobil.
Rara baru ingat, Adit akan menjemputnya. Tapi ia lupa mengabarinya. Terlihat dinotifikasi handphonenya '7 panggilan Ka Adit tidak terjawab'. Volume lagu dan obrolan berdua dalam mobil menutupi mode getar pada HP Rara. HP Adit bergetar, telepon masuk dari 'Rara'.
"Ya, Ra? Masih lama? Lo masih dimana?" Tanya Adit.
"Kok gue? Lama apanya? Lo tuh yang masih dimana? Gue nungguin lo lama banget, Ka," jawab Rara dengan volume suara yang semakin meninggi.
"Gue masih nungguin lo kok di rest area. Gausah buru-buru pipisnya," jawab Adit sedikit cengengesan.
"Gua udah pulang bareng Baskara, Adit..." kata Rara.
"Loh? Terus.." dilihatnya Rara datang ke arah mobil Adit. Tapi dia jalan sangat cepat. "Weh akhirnya dateng juga, jago juga lo naik sepatu roda,Ra," kata Adit.
"Dit, masa gue main sepatu roda malem-malem" jawab Rara.
"Adit, ini gue Baskara. Rara gue yang anter pulang ya," Baskara menimpali obrolan mereka berdua.
Mata Adit terbelalak, "Jadi?!"
Komentar
Posting Komentar