Sabar dan Amarah : Abdurrahman bin Aun

"Inna raajula yakunu madzluma fa laa yazaalu yaqulu hatta yakuna dzhalimaa"

Seseorang yang berawal di pihak yang terdzolimi lalu dia terus bicara sampai akhirnya peta berubah. Sehingga yang tadinya didzholimi, kemudian dia menjadi orang yang dzolim. Naudzubillah wa Innalillah. 

Omongan kita tentang oranglain itu lebih banyak daripada dosa oranglain ke kita. Yang tadinya pahalanya dapat pada pihak yang didzholimi, karena lisannya (yang banyak bicara) itu pahalanya juga dapat beralih.

Mungkin kalau jaman dulu, lisan ke lisan. Tetapi jaman sekarang, media sosial dapat menjadi perantara lisan-lisan itu. WA? IG? FB? Yang memungkinkan terjadinya ghibah, malah berujung fitnah. 

"udah sakit hati, dia yg dapat pahalanya pulak." 

Subhanallah. 

Sebuah kisah Ibn Aun ini kesabarannya adalah kesabaran ahli-ulama berpuasa. Diceritakan bahwa beliau pernah berjalan bersama unta kesayangannya ,yang biasa menemani untuk berhijrah dan berperang, kemudian seorang hamba sahaya secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas memukul bagian kepala& wajah unta hingga salah satu mata unta itu menggantung/terlepas hingga jatuh ke pipinya. Namun, Apa respon pertama Ibn Aun? Dia mengucap tasbih, Subhanallah. Lalu dia bertanya, Afalaa ghairuwajh? Mengapa tidak memukul dibagian selain kepala? Mengapa harus di wajah? Barakallahufiik, Akhrij a'nni. Kemudian dibebaskannya hamba sahaya tersebut. 

Beliau menyikapi Bilal bin abi Burdah ketika Bilal membuat Ibn Aun bercerai dengan istrinya. (Sekilas cerita: Bilal tidak suka ketika Ibn Aun menikah dan menganggapnya sebagai pernikahaan yang tidak syar'i. Kemudian diancam dan dicambuknya Ibn Aun olehnya. Dan bercerai secara terpaksa.)

Seperti manusia lainnya, sahabat-sahabat beliau merasa kesal (greget sendiri) dengan apa-apa yang menimpa Ibn Aun. Ketika unta miliknya disiksa, ia menerima dan berdzikir pada-Nya. Padahal orang-orang sudah menganggap, mungkin ini waktu yang tepat jika Ibn Aun akan meledak / marah. Ketika bercerai, ia berusaha mempertahankannya. Mungkin dengan bahasa sekarang, "kok bisa dia diem aja? dia yang mengalami, jadi kita yang kesel." sebegitu sabarnya beliau dalam menahan amarah. 

Tidak semua orang dapat bertahan dengan siksaan. Di hari kiamat kematian divisualkan seperti seekor kambing lalu disembelih sehingga tidak ada kematian, yang ada siksaan seumur hidup. Naudzubillah. 

Cara berpikir dan menata hatinya Ibnu Aun itu membuat dirinya menjadi semakin tenang. 

"Dzikrunnasi daa-a mengingat manusia itu penyakit. Wadzikrullahi dawaa-a dan mengingat Allah adalah obatnya."

Diam-nya orang marah menjadi bijaksana. 

- Ust. M. Nurul Dzikri.

Komentar

Postingan Populer