Ibu peri
Kami sekeluarga akan berlibur ke luar negeri. Pusat kota ramai seperti menjelang pergantian tahun oleh para penari dengan kaki yang beroda. Para penari itu terlihat banyak pasang wajah dengan berbagai ekspresi berbeda. Terkadang menjadi rambu lalu lintas bagi dirinya sendiri. Mereka menyala-nyala tiap berpapasan satu dengan yang lainnya. Aku menggenggam tanganku dan memperhatikan tiap garis di tekukan kulit telapak tangannya. Mungkinkah tubuh ini juga memiliki warna-warna? Mungkin, apapun yang aku lihat sekarang tidak hanya putih, hitam dan abu-abu.
Ditengah perjalanan, aku pingsan. Seseorang datang dalam alam bawah sadarku seperti membisikkan sesuatu, tapi aku tak ingat betul. Dia hanya tersenyum padaku dan ‘high five’ dengan tangannya yang bercahaya biru. Tersadarku ketika melihat ayah dan kakak menangis memelukku. Aku terheran. Bukankah kami semua akan pergi berlibur dan menikmati akhir pekan dengan ceria? Ayah, kakak dan aku pulang lagi ke rumah. Aku bertanya kenapa, mereka tak menjawab. Kalau ibu, aku jarang bertanya tentangnya. Tapi ia yang selalu menjawab pertanyaanku dengan banyak “kenapa” dan “bagaimana”. Karena terlalu sering ibu pergi untuk bekerja, aku juga tidak terlalu merasa kehilangan ketika ibu hanya pergi sebentar. Di dalam mobil kami semua terdiam. Sepi sekali rasanya. Biasanya ibu yang mebuka obrolan. Baru kali ini, sedih rasanya rencana berlibur tak begitu mulus dan tanpa ibu. Ulu hatiku sakit. Aku mengelus dadaku, takutnya nocturnal asthma ku kambuh meskipun hari masih sore. Sentuhan ibu biasanya langsung menyembuhkan. Namun, sesuatu menggetarkan tubuhku. Terdengar suara loncengan bel berbunyi dalam telingaku.
“Apa kalian dengar itu?” tanyaku pada ayah dan kakak. Mereka menggeleng. Kakak melihatku dan mengusap kepalaku. Ia seakan menahan tangis. Aku jadi menangis. Sebenarnya ada apa? Apakah cintanya para lelaki memang sedingin itu sampai tetap tak ingin mengawali pembicaraan seperti yang ibu lakukan? Air mataku mengalir deras. Tak biasanya aku jujur dengan perasaanku sendiri apalagi ketika berhadapan dengan manusia lainnya. Aku berharap mereka berdua bisa merespon tangisan anak kecil ini seperti yang dulu kakak lakukan padaku, mengusap air mataku. Sudah terputar 3 lagu, air mataku belum bisa reda sedang bunyi gemerincing lonceng itu masih tetap bersemayam di dalam telinga mengikuti irama tangisanku. Aku yang kesal, mengusap air mata sendiri. Hujan turun. Gemerincing lonceng itu hilang. Air hujannya memiliki warna yang terbiaskan dari kaca mobil. Mataku bisa memperbesar dan memperkecil benda yang dihadapanku. Duniaku penuh warna sekarang. Air itu dibawa oleh peri-peri kecil dari langit. Dibagikan kebanyak pepohonan dan disebar tak menentu arah sampai yang jatuh seperti diatas mobil kami. Rupa seorang peri itu seperti yang diceritakan ibu tentang dongeng-dongeng kala aku kecil dulu. Mataku yang rabun jauh rasa-rasanya tak membutuhkan kacamata lagi. “Apakah kalian melihatnya?” tanyaku pada ayah dan kakak. Aku menghadapkan badan ke belakang melihat jalanan yang berjalan mundur. Mataku tidak lepas memperhatikan seorang peri yang diam di kaca belakang mobilku. “Mengapa dia diam saja, ayah? Apa dia mati?” tanyaku pada ayah ketika mata seorang peri itu terpejam. Digenggamnya satu buket bunga yang tertulis 2 kartu berisi 2 huruf. “I” dan “A”. Seperti panggilanku dan inisial nama ayah dan kakak.Aku mengetuk kaca mobil. Peri itu terbangun sambil mengusap wajahnya. Aku berteriak, “Dia buta! Matanya tidak ada.” Ayah menghentikan mobilnya. Kakak mengusap kepalaku menenangkan aku yang ketakutan. “Hanya kau yang dapat mendengarnya. Hanya kau yang dapat melihatnya. Hanya kau yang dapat berkomunikasi dengannya,” kata Ayah. “Mengapa?” tanyaku
“Sebab kau memiliki separuh dari jiwa dan darahnya.”
#flashfiction
Komentar
Posting Komentar