tersadar~
[ Kontribusiku untuk Negeri ]
Kalau ditanya soal ini.. sejujurnya bingung mau jawab apa. Dibayanganku, perihal negeri itu cakupannya sangatlah luas dan terlalu muluk untuk bertindak agar dampaknya terlihat nyata & besar. Saya adalah yang selalu percaya bahwa sesuatu yang besar berawal dari yang kecil. Mengapa kita harus sibuk mencari definisi kontribusi itu sendiri sedang kita dapat mengupayakan – melakukannya setiap hari?
Setiap langkah kita, setiap apa yang kita pilih, sebenarnya dapat membentuk kita dimasa yang akan datang.
Tidak perlu cari kemana, berbuat (kebaikan)lah untuk orang-orang disekitarmu. Lakukan mulai dari yang dekat. Tidak perlu cari yang besar, berbuatlah mulai dari hal kecil, hal yang paling mudah. Misalnya, sebagai anak, kita bisa dengan sukarela membantu orangtua dengan membereskan pekerjaan rumah,misalnya. Atau sebagai pelajar, kita bisa membiasakan membaca mulai dari selembar-dua lembar perharinya.atau paling tidak selalu ada wawasan yang kita dapat setiap harinya. Hal kecil semacam itu yang sebenarnya menjadi perayaan yang besar bagi kesuksesan kita dimasa mendatang, karena kebiasaan baik yang sudah kita bentuk sedari muda,sedari hal yang mudah.
Harapan terbesarnya? Dengan konsistensi membaca, misalnya,(walaupun dari artikel/ status teman / lainnya,misalnya) berarti kita berkontribusi untuk meningkatkan literasi bangsa. Harapan terbesarnya? Dengan sukarela melakukan sesuatu terbiasa membuat kita secara responsif dan empati dengan oranglain.
Setidaknya, yang tidak boleh hilang dari kita adalah semangat belajar dan ingin tahu. Karena hal tersebut merupakan modal penting setiap manusia untuk tetap bertumbuh dan maju.
Foto diatas merupakan salah satu dari sekian foto&video yang merepresentasikan kami,para relawan, berkontribusi untuk negeri dibidang pendidikan. Dari anak-anak disana, saya menjadi bahagia betapa mereka tak pernah luntur semangatnya untuk tetap belajar meskipun keadaan jauh rasanya dibandingkan kita yang tinggal dikota bila dipertimbangkan segi akses. Mereka yang disana, kurang sekali tingkat literasinya. Karena jumlah buku yang minim, membuat mereka tidak bisa puas membacanya, bergantian. Taukah? Mereka saja masih tidak tahu tempat tinggal mereka dimana. Tidak tahu Banten ada di Indonesia. Tidak tahu tempat mereka disekelilingnya terdapat wisata alam yang menjadi kenikmatan pelepas penat manusia-manusia dari kota. Atau seumum Pancasila atau posisi Indonesia pun, Mereka belum tahu secara jelas. Kami tak menemukan disana tiang bendera dan bendera merah putih untuk upacara hari senin. Ketika kami latihan upaca pun, bendera diganti dengan sandal. Ide mereka. Tiang diganti dengan kayu. Ide mereka. Mereka belum tahu banyak aja soal apa yang mereka punya; semangat, kekayaan alam, ide-ide kreatif. Saat itulah saya ingin kembali berkontribusi jauh lebih besar dari apa yang sudah saya jalani sekarang. Taukah? Ketika kami baru saja datang ke desa tersebut, mereka dengan inisiatifnya membantu kami. Karakter sudah ada dalam diri mereka, hanya saja mereka belum punya ruang yang lebih untuk bisa 'setara-menyetarakan' dengan pelajar yang lain.
Sama dengan itu, dengan bakti saya menjadi relawan, yang meskipun hanya sekitar satu bulan saja, tetapi saya, sebagai warga negara, punya kewajiban membantu teman-teman lain disana dalam proses belajar agar tingkat pendidikan ataupun melek IPTEKnya dapat menyesuaikan dengan negara-negara lain yang tingkat pendidikan jauh lebih baik daripada kita.
Bersyukurlah kawan. Kita dapat mengakses bacaan apapun dengan mudah hanya dengan gadget. Jadi, teruslah menebar manfaat and start from small action so you can find big impacts.
#smartleaderpreneur #writingchallenge #283
Berawal dari challange, hal ini menjadi pecutan bagi saya untuk bisa berbuat lebih banyak kebaikan. Apapun. Yang terlihat maupun tidak. Semua orang bisa berkontribusi apapun; sesuai bidangnya, kemampuannya, dan achive for life purposes (agama, bangsa, negara).
Komentar
Posting Komentar