Pergi

Kesibukan duniawi membuat kami sekeluarga jarang menemui nenek. Padahal, hanya perlu satu setengah jam dari rumah kami ke rumah nenek. Pandemi ini membuat kami memiliki lebih banyak berbincang dengan keluarga lainnya. Ya, meskipun sebatas layar kaca. Hampir terhitung setahun, kami hanya berkomunikasi dengan video call. Tetapi, aku menyempatkan datang ke Rumah Nenek. Hanya aku; tanpa ibu, ayah, kakak, dan adik. Adik dan Ibu adalah paket komplit. Adik belum bisa lepas dari ibu diusianya yang menginjak 4 tahun. Ibu menemani ayah dan adik. Tentunya, mengurus rumah juga. Ayah sibuk bekerja. Begitu juga kakak, ditengah kesibukannya antara bekerja dan kuliah. Kalau aku? Kuliah daring masih bisa dilakukan dimanapun. Aku pun hanya mampir tiap 3 hari diakhir pekan.

Nenek tinggal bersama Paman Pamungkas dan istrinya, Tante Ranti. Biasanya malam menjelang, kami semua berkumpul diruang tengah. Kami menonton bincang 4 sahabat di stasiun televise favorit sembari Tanti menunggu Pangkas pulang. Nenek memang sudah sedikit terasa nyeri-nyeri pada sendi dan tulangnya. Jadi, tidak memungkinkan untuk Pasutri adik ibu ini tinggal berpisah dengan Nenek.

“Neng Ning!” begitu teriakan nenek tiap aku datang sembari akan memparkiran motor. Ketika aku merespon panggilannya lalu menoleh, Nenek melanjutkan, “Neng Ning Ning Nang Woe” Sapaan awal yang menyenangkan dari nenek kepada cucunya. Ini adalah salah satu alasan kenapa aku senang datang ke Rumah Nenek, meskipun nenek suka sibuk sendiri untuk menjahit dan berkebun. “Nenit Aqyuu.. nenek genitnya Bening.”, kataku menjawab candaan nenek.

Aku berani untuk berkunjung ke Rumah Nenek karena selama pandemi, tidak ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk keluar rumah. Untung saja anak introvert betah dengan kesendirian. Meskipun butuh teman sih. Dan nenek adalah salah satu teman terbaikku untuk berbagi cerita. Tapi beliau tidak bisa menggunakan handphone canggih. “Tulisannya berjalan sendiri,” katanya. Ya memang layar sentuh begitu,nek.

Seminggu- dua minggu, setiap libur seperti biasanya, aku pulang-pergi dari rumahku ke Rumah Nenek. Aku selalu menemani nenek setiap perayaan besar. Maulid nabi dan Hari Raya, kami simak beberapa Live Streaming kajian ustadz kondang. Nenek sangat bahagia ketika bisa menyapa cucu-cucu lainnya menggunakan video call.

Minggu terakhir di Bulan Januari, satu minggu setelah Hari Raya, nenek tak lagi menyapaku dari kejauhan. “Neng Ning” tidak lagi terdengar ceria. Nenek hanya senyum tipis-tipis.

“Iya, kemarin saat mau minum susu, nenek hanya diam saja. Pas ditanya hanya menggeleng dan sesekali megang pinggulnya. Mungkin cangkeul,” kata Tanti menduga ketika aku bertanya ada apa pada nenek. Seperti biasa, aku menuntunnya setiap waktu shalat. Aku berusaha menyiapkan susu, obat, dan pakaiannya tiap pagi dan petang. Juga malam, aku memijat nenek. “Nek besok ikut ngaji nggak bareng Tanti?” tanyaku pada nenek.

Nenek hanya menggelengkan kepala. Larut malam seperti biasa aku terbangun karena suara batuknya nenek. Nenek langsung minum segelas air hangat tanpa banyak komplain.

Pagi hari aku bangun lebih awal. Aku lihat lampu dapur menyala. Berarti salah satu orang dirumah sudah ada yang bangun. Nenek masih terlelap tidur. Aku membangunkan Nenek hanya menepuknya saja. Tak tega. Saat aku selesai zikir pagi, seperti biasa Wa Nenih, tukang gorengan langganan keluarga, sudah memanggil kami keluar. Tapi, tumben Tanti belum keluar. “Eh neng ada di sini. Nggak ikut Tantenya,Ning? Rame loh itu, Ning” Tanya Wa Nenih.

“Ngga, di rumah aja.” Kataku sambil mengambil oncom dan lontong.

Atos neng? Nuhunnya. Hati-hati dirumah. Wa Nenih keliling lagi ya,” kata beliau sambil mengangkat dagangannya lagi dari teras rumah.

Lalu, aku pergi ke kamar, mau membangunkan Nenek. Ternyata Nenek dari kamar mandi. Sudah mandi dan rapi. “Tanti ngaji, Nek,” kataku. Beliau hanya mengangguk sambil menyeruput teh manis hangat. “Nek, Pangkas juga sudah berangkat kerja,” lanjutku.

Kegiatan hari minggu nenek biasanya terisi benang dan kain atau pupuk dan pot. Kali ini, aku akan mengajaknya menonton film setelah ibadah zuhur. “Nek, kita nonton aja ya nek. Abis ini makan,” kataku. Selama film diputar, nenek fokus menatap layar. Belum pernah rasanya ku memperhatikan lamat-lamat ketika nenek diam. Karena biasanya nenek bawel, selalu ada saja yang dikomentari. Bahagia rasanya melihat senyum nenek meski senyumnya tipis. “Sebentar ya nek, aku nyiapin makannya dulu,” lanjutku sambil berjalan ke arah dapur.

Hening sekali rumah ini. Rumah seluas ini hanya berisi 3 orang setiap harinya. 4 orang tambah aku. TV yang menentang kesunyiannya. Saatku sedang memasak, terdengar suara dobrakan pintu. Aku berlari keluar. Terlihat Pangkas langsung bersandar di tiang tembok teras.

“Lah, dikira kerja. Kok pulang lagi?” tanyaku.

“Ayo siap-siap,” jawab Pangkas.

Terlihat Tanti keluar dari mobil dengan muka yang pucat, lemas. Ia masih menggunakan piyama. “Kok, masih pakai piyama. Dikira ngaji. Abis pada darimana sih?” tanyaku pada Tanti dan Pangkas.

“Nenek sudah nggak ada,” jawab Pangkas lemas namun menguatkan Tanti. Memegang pundaknya sambil menuntunnya kedalam. Aku heran, “Ada kok lagi nonton. Nih mau makan.”

“Semalam sudah batuk-batuk.. sempat jatuh dari kasur,” kata Tanti berbicara sambil menahan tangis, sedikit sesenggukan.

“kalau batuk,iya. Tapi habis minum tidur lagi kok.”

“Kalau Pangkas bangunkan kamu, bakal ribet, Ning. Terlalu pagi bangunkan kamu,”

“Aku sempet ngeh kok, Nenek bangun.”

Tanti dan Pangkas menghiraukan aku. Aku lari kedalam, ke ruang TV, memastikan Nenek ada disana. Tapi..

TV-nya mati. Tidak ada siapapun di ruangan ini.

“LAH TADI AKU SAMA SIAPA?! Apa semalam tidurku motah, tendang kesana kemari, sampai Nenek terjatuh?”gumamku dalam hati.

Tanti menangis bersuara sambil memelukku. Aku? Sedihku tertunda beberapa menit, masih terheran.

Komentar

Postingan Populer